Tahun lalu ketika musim dingin, saya pergi naik kereta api ke Osaka. Di perjalanan disuguhi pemandangan yang luar biasa bagusnya. Lantas saya bertanya ke senpai saya apakah tempat itu bisa didatangi. Dia pun menjawab "itu namanya Arashiyama, lain kali harus kesitu biar sah jadi orang Kyoto" katanya. Kurang lebih satu bulan dari percakapan itu, saya akhirnya pergi ke Arashiyama dengan kereta api. Ternyata Arashiyama sangat dekat dengan apartment tempat saya tinggal. Stasiun kereta apinya pun sangat sangat impressive. Karena arashiyama ini termasuk salah satu tempat wisata paling populer di Kyoto, bahkan di Jepang. Stasiun Randen Arashiyama source : google Tapi sayangnya waktu itu cuaca sedang sangat tidak mengenakkan. Gerimis, disertai angin yang kencang sekali, ditambah waktu itu musim dingin yang emang cuacanya aja udah dingin, ngebuat tangan saya kaku mati rasa. Akhirnya baru tiba di jembatan penyebrangan nya aja saya nyerah dan memutuskan untuk pulang. Karena...
Foto diambil pada saat "Festival Gion" Saya lumayan sering juga ditanya, bahasa apa yang saya gunakan sehari - hari di Jepang. Ini sih menurut saya sebenernya udah terlalu obvious, ya tapi dijawab aja gaada salahnya. Di Kyoto tempat saya belajar, mostly orang orang Jepang hanya menggunakan bahasa Jepang. Demi apapun kalo ada orang Jepang yang ngomong bahasa inggris dengan pronouncation Jepang, saya mendingan ngomong sama rumput yang bergoyang aja. Iya, pronouncation orang Jepang dalam berbahasa asing sangat - sangat sulit untuk dipahami, menurut saya. Dikarenakan lidah orang Jepang yang sulit mengucapkan huruf diakhir kata. Seperti contoh McDonald menjadi Makudonarudo, Premium jadi Puremiamu dan lain lain. Jadi bayangin aja bagaimana sulitnya memahami sebuah kalimat bahasa inggris yang di ucapkan kaya gitu semua. Tapi bukan berarti semua orang Jepang gabisa ngomong inggris kaya native speaker ya, ada tapi mungkin sedikit. Hehehe gomenne nihonjin. Di Jepang juga ...